Gejolak Papua dan Geopolitik


Oleh: Hendrajit

(Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute)

Dalam situasi stalemate (buntu) di Papua saat ini, saya membayangkan beberapa korporasi global macam Seven Sisters (the seven transnational oil companies) atau Petro China dan CNOOC yang sudah menegara itu, pada mengaktifkan para pakar geografi, budaya dan ekonomi di perusahaannya masing-masing.

Bukan saja untuk dapat gambaran mengenai pola konflik yang sesungguhnya berlangsung di Papua, tapi juga langkah antisipasinya ke depan. Apakah tetap melalui persuasi, perang saudara, atau invasi secara langsung.

Paralel dengan kejadian di Papua yang saat ini masih pada taraf rusuh sosial, Amerika dan Inggris sudah menggelar dua panggung untuk membendung Cina. Yaitu forum multilateral INDO-PASIFIK dan persekutuan EMPAT NEGARA(QUAD) AS, Australia, Jepang dan India.

Titik rawan pergolakan yang memperhadapkan AS dan sekutu-sekutu Barat versus Cina adalah di perairan Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur. Pada tataran ini, Papua merupakan salah satu choke point* buat kedua kubu.  

(*Dalam strategi militer, titik sempit (choke point) adalah fitur geografis di daratan seperti lembah, defile atau jembatan, atau selat yang mau tidak mau harus dilalui sebuah pasukan untuk mencapai tujuannya, biasanya dengan front yang lebih sempit sehingga mengurangi kemampuan tempur pasukan tersebut. Titik sempit dapat memungkinkan pasukan bertahan yang lebih inferior untuk mengalahkan musuh yang lebih besar apabila pihak penyerang tidak mampu memusatkan kekuatannya)

Menyadari kondisi obyektif di Afrika dan beberapa negara Asia sejak 2016, AS menyadari telah ketinggalan beberapa langkah dalam perang asimetris melawan Cina. Khususnya dalam kerjasama ekonomi dan perdagangan.

Sehingga sejak masa akhir Obama berkuasa, sempat mengeluarkan kebijakan Poros Keamanan Asia. Yang mana Pentagon menindaklanjuti dengan mengirim 60 persen kapal perangnya ke perairan Laut Cina Selatan.

Pada era Trump, kebijakan Obama diteruskan, namun Pentagon merevisi di sana sini. Karena sadar AS mengalami defisit perdagangan dengan Cina dan bahkan dengan negara-negara Asia lainnya, termasuk ASEAN, pemerintah Trump berusaha mengimbangi dan menutup kerugiannya itu dengan menggalakkan ekspor senjata.

Sehingga pergeseran dari pendekatan ekonomi ke militerisasi dengan modus menggalakkan ekspor senjata, maka kawasan Asia, termasuk indonesia, berarti jadi arena peningkatan lomba senjata.

Alhasil, perlu cipta kondisi yang mengarah timbulnya konflik bersenjata. Maka perlu faktor pemicu. Apakah Papua termasuk sasaran cipta kondisi? Ini yang harus dibahas berbagai stakeholders kebijakan luar negri.

Jadi jangan cuma fokus pada Cina saja. AS dan blok Barat pun sama-sama lakukan cipta kondisi yang sama berbahayanya.

Maka, berbagai komponen bangsa harus melihat kasus Papua dalam perspektif menyeluruh. Seraya mengaktualisasikan kembali salah satu senjata pusaka non militer kita. POLITIK LUAR NEGRI BEBAS-AKTIF.

Dengan demikian, kita berpaling kembali pada kekuatan-kekuatan Asia Afrika sebagai negara negara berkembang bersatu sebagai kekuatan mandiri di luar kutub Barat maupun Timur.

Jumat, 30-08-2019 

Bangsa Papua Membara, Jokowi Foya-foya?


Oleh: Nasrudin Joha (Pengamat politik)

Di tengah ketidakjelasan sikap Pemerintah terhadap isu Papua dari referendum hingga pelibatan internasional, muncul kabar Presiden Joko Widodo mau beli mobil dinas baru.

Pengadaan mobil dinas baru yang diajukan sejak Maret itu, untuk menteri kabinet pemerintahan Jokowi yang bahkan anggarannya mencapai angka Rp 147 miliar.

Saat ditanya wartawan ihwal Papua, Jokowi aa uu, hanya menyatakan untuk saling memaafkan. Miskin solusi. Videonya beredar luas, banyak yang `gemes` menonton video wawancara ini.

Padahal, sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, bahkan dalam konstelasi sistem presidensil, Jokowi memiliki wewenang luar biasa besar dan dapat menyelesaikan persoalan Papua dengan kewenangannya itu. Kalau yang ditanya wartawan itu Nasjo dan Nasjo miskin solusi, wajar saja karena Nasjo tak punya kekuasaan.

Geng pendukung Jokowi, baik dari partai atau kelompok kepentingan, juga bungkam soal isu Papua. Mereka, seperti gagu, tidak cerewet seperti ketika membahas posisi menteri kabinet dan pimpinan MPR RI.

Ditengah kondisi Papua yang membara, di antara Kegentingan pra kondisi menuju referendum dan akhirnya pemisahan diri dari NKRI, Jokowi justru sibuk beli mobil baru untuk kabinetnya. Mobil yang nilainya 147 miliar ini, tidak berempati dengan kondisi rakyat yang lagi sulit.

Kalau negara sedang kaya, pertumbuhan ekonomi lagi baik mencapai 7 % misalnya (sesuai janjinya), bolehlah menteri gagah-gagahan untuk merepresentasikan kemakmuran rakyatnya. Lha "wong" rakyat mau makan saja sulit, usaha dan dagang apa-apa susah, ini kabinet Jokowi malah mau foya-foya.

Apatah lagi, kondisi Papua sedang membara. Makin jengkel rakyat Papua pada pemimpin di Jakarta. Tidak memberi respons yang pruden dan terbaik untuk Papua, pejabat di Jakarta malah asyik foya-foya.

Pantas saja semua partai rebutan kursi menteri, jadi menteri itu enak. Banyak fasilitasnya. Tak perlu juga pinter-pinter, cukup senyum berseri ketika ditanya wartawan soal mengelola Pemerintahan. Atau cukup anu, apa, anu, apa, anu, apa, ujungnya: bukan urusan saya.

Saya sendiri entah sudah berapa kali bikin artikel sarkas dan nyinyir ke kebijakan Jokowi yang amburadul. Tapi, memang kepala batu tak juga didengar. Sepertinya, negara sedang dijalankan dengan rumus `kacamata kuda`.

Terserah apa kebijakan Pemerintah, yang jelas sebagai penyambung lidah rakyat, saya musti menuliskan suasana kebathinan rakyat diatas layar persegi ini. Ketika Anda membaca artikel ini, sesungguhnya Anda sedang membaca isi hati Anda sendiri.

Saya tidak menulis, kecuali merefleksikan apa yang ada dalam dada dan benak umat. Mereka semua, termasuk Anda, tentu tak akan ridlo hidup sengsara dalam tekanan dan kezaliman. gelora

Skandal Pohon Sengon



kata-data.com - POHON sengon menjadi tertuduh. Kementrian ESDM melakukan pemeriksaan serius. Kening kita berkerut betapa dahsyatnya sebuah pohon tiba tiba bisa melakukan aksi spektakuler memadamkan listrik di tiga provinsi.

Konon, kini tengah dicari siapa pemilik pohon. Jangan-jangan yang bersangkutan dijadikan tersangka sebagai penyebab. Duh, betapa primitifnya negeri dan hukum yang berlaku di sini.

Berjubel ahli kelistrikan harus tersungkur tak berkutik oleh "sengon tree". Kepada Kementrian ESDM, mohon melakukan pemeriksaan secara rasional dan faktual, benarkah hanya oleh perilaku sengon maka berefek sefatal ini?

Bila ya, pertanyaannya mengapa sesederhana ini proteksi keamanan kelistrikan yang hanya oleh dahan pohon bisa bikin padam sebagian Pulau Jawa? Jika bukan sengon penyebabnya, maka malapetaka kebodohan apa SDM kita dalam menemukan penyebab. Pohon sampai jadi tertuduh dan terhukum.

Berandai-andai bahwa benar penyebab listrik mati separuh Pulau Jawa adalah pohon sengon, maka bagi orang berotak jahat dan tukang sabot akan memiliki masukan berharga tentang bagaimana cara memadamkan listrik untuk satu atau dua pulau. Bahkan seluruh Indonesia.

Dengan "teknologi" sesederhana dan semurah mungkin. Atau bagi akademisi bisa jadi bahan riset memperoleh gelar Doktor bagaimana memadamkan listrik secara massal dengan sebuah dahan pohon. Luar biasa "sengon power" ini.

Pemimpin negara termasuk jajaran kementrian baiknya jangan dulu mengumbar pernyataan sebelum benar-benar melakukan penelitian saksama. Agar dapat dipertanggungjawabkan temuannya dengan rasional dan faktual.

Bukan asumsi yang ditertawakan oleh rakyat dan mungkin juga luar negeri. Sebab tuntutan publik bisa lebih serius bahwa Menteri atau Presiden harus segera mundur karena listrik padam sepuluh jam di tiga Provinsi dan telah menimbulkan kerugian triliunan rupiah disebabkan oleh sebuah dahan pohon. Ini kejadian "human horror" yang bisa tercatat di buku museum rekor dunia.

Setelah presiden marah-marah bolehlah kita sekarang bersama-sama tertawa dan teriak "Hidup sengon...!". "Sengon is the real power.. !"(rmol)

M Rizal Fadillah
Pemerhati Dahan Pohon

Komunis dan LGBT Dipelajari, Islam Dikriminalisasi


Oleh HERNI KUSMIATI (Warga Kota Banjar)

KAGET rasanya ketika membaca berita bahwa Menristekdikti, Mohamad Nasir, memperbolehkan civitas akademik untuk mempelajari paham Komunis (Marxisme) dan LGBT. Ia mengatakan tidak masalah baginya, sepanjang bisa dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, pada kesempatan lain, ia mewacanakan untuk melakukan pendataan akun sosial media milik mahasiswa dan dosen.

Alasannya, untuk mencegah penyebaran paham radikal di lingkungan kampus, demi menjaga keutuhan NKRI.

Jika kita amati, pada dasarnya Menristekdikti telah menerapkan standar ganda. Begitu terbukanya ia terhadap paham komunis dan sekuler, tetapi di saat yang sama tidak memberi ruang terhadap civitas akademik yang ingin mempelajari Islam secara kaffah di lingkungan kampus.

Bahkan ada upaya kriminalisasi bagi mereka yang mempelajari Islam secara kaffah dengan cara diawasi akun sosial medianya.

Ini menunjukkan bahwa ia telah terjangkiti virus Islamophobia yang akut. Ketakutan terhadap Islam sebagai ideologi telah membuat ia sesat pikir dan kehilangan akal sehat.

Padahal jika memang kebaikan yang ia inginkan, maka seharusnya ia memberi ruang kepada mahasiswa dan dosen yang mempelajari Islam, baik Islam sebagai agama atau pun Islam sebagai sistem kehidupan. Karena Islam adalah rahmatan lil ‘alamin yang akan mewujudkan kemaslahatan bagi umat.

Selain itu, mempersilahkan mahasiswa untuk mempelajari paham komunis tanpa dibekali dengan pemahaman akidah yang benar dan kokoh (bagi kaum muslim) hanya akan semakin menjauhkan mereka dari Islam dan mengagungkan ajaran manusia.

Bayangkan saja, kehidupan yang kian sekuler, jauh dari agama, kemudian diterjang arus pemahaman yang keliru, wajar jika hasilnya semakin menjauhkan mereka dari agamanya sendiri.

Mengapa pemikiran-pemikiran sekuler ini terus tumbuh? Hal ini tidak lain karena sistem kehidupan yang kita pakai adalah sistem sekuler, yang melarang ajaran agama masuk ke dalam ranah kehidupan bernegara. Maka, rincian kebijakannya pun sekuler. Kurikulum pendidikan pun sekuler.

Berbeda dengan Islam. Landasan hidup seorang muslim baik dalam urusan pribadi atau pun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah Laa ilaaha Illallaah, Muhammadar Rasulullaah. Maka apa pun yang akan dia kerjakan, tidak keluar dari apa yang sudah diajarkan oleh Rasulullaah saw.

Berkaitan dengan pernyataan Menristekdikti tentang kebolehan mempelajari ajaran komunis, maka Islam tidak akan memberikan peluang masuknya ide, pemikiran dan pemahaman yang akan memperlemah akidah kaum muslim.

Pendidikan diawali dengan penanaman akidah yang kokoh pada jiwa seorang muslim. Ide atau pemikiran yang bertentangan dengan Islam hanya boleh dipelajari jika penanaman akidah ini telah tertancap kuat pada benak mereka.

Kebolehan mempelajari ide-ide asing yang bertentangan dengan Islam bertujuan untuk mengetahui letak kesalahan ide atau pemikiran tersebut. Bukan untuk dijadikan sebagai acuan dalam menjalani hidup. Wallahu a’lam bishowab. [gelora]

Menghina Anies Sama dengan Menghina Prabowo


Penulis: Balya Nur

Anies Baswedan jadi gubernur DKI bukan mendadak turun dari langit bareng air hujan. Bukan karena Tuhan marah dengan Ahok yang dengan sombongnya menantang hujan, “Nah semalam dites ok. Makanya, saya enggak tahu, saya harap beberapa hari ini hujan lebat lagi nih, kalau perlu hujan lebat yang, lah satu jam, dua jam, kita tes lagi,” Lalu Tuhan menurunkan hujan, tidak sampai hitungan jam saja Jakarta kontan banjir plus bonus Anies yang ikut mengalir masuk Balaikota untuk menggantikan Ahok. Bukan. Bukan itu. Lagi pula untuk menutupi malunya, Ahok mengganti kata banjir menjadi hanya sebatas genangan air yang akan surut dalam waktu kurang dari 6 jam, walaupun faktanya banjir betah menghabiskan waktu beberapa hari menikmati indahnya kota Jakarta.

Tuhan punya cara sendiri untuk mengusir Ahok dari Balaikota karena mungkin Ahok sudah dianggap melampaui batas dalam bertutur kata. Bukan hanya berani melecehkan salah satu ayat surah Al Maidah, tapi juga dia dengan entengnya seolah mengatakan dalam bernegara kitab konstituisi lebih penting daripada kitab suci.

Maka Ahok pun tamat karirnya dengan cara konstitusional. Dengan kata lain, kitab kosntitusi yang dibanggakan Ahok boleh dibilang seperti pagar makan tanaman. Padahal bukan hanya Ahok, publik pun seakan yakin seyakinnya Ahok bakal menang telak pada Pilkada DKI 2017. Tentu saja setelah menghitung secara kalkulasi politik para bakal calon gubernur yang akan menantang Ahok. Waktu itu nama Anies nggak masuk hitungan. Anies nggak punya partai. Mau jalur independen butuh dana yang guedeee banget, juga perlu relawan yang militan. Ahok saja nyerah setelah konon katanya berhasil mengumpulkan berkarung karung KTP, akhirnya pakai cara yang dulu ditentangnya, melalui jalur Parpol dan membiarkan karungan KTP itu jadi barang tak berguna, menysiakan kerja relawannya yang sia-sia. Bergabungnya Ahok dengan parpol koalisi seperti PDIP dan Golkar saja public sudah memastikan Pilkada DKI sudah selesai sebelum pencoblosan. Apalagi ditambah dukungan parpol parpol kecil lainnya.

Pada deti-detik akhir pendaftaran calon gubernur DKI, entah apa yang ada dalam pikiran Prabowo, dia mendadak memanggil Anies untuk jadi cagub mendampingi Sandiaga Uno. Padahal parpol koalisinya juga banyak kader yang layak jadi cagub. Tapi kalau berhadapan melawan Ahok tentu saja bukan soal layak dan tidak layak atau mampu dan tidak mampu.

Anies pun sama sekali nggak kepikiran bakal dicagubkan oleh Prabowo. Anies kan dulu timses Jokowi-JK. Sulit memang menerka pikiran Prabowo yang taktis, strategis, yang bikin Ahok menangis. Pada awalnya hasil survey Anies-Sandiaga kalah jauh dibanding dua pasangan cagub rivalnya. Tapi Prabowo tetap opitimistis, Anies-Sandi bakal jadi gubernur dan wakil gubernur DKI.

Anies tentu saja sangat berhutang budi pada Prabowo. Belum pernah ada pemimpin Parpol yang berani nekad mengambil keputusan yang lebih mementingkan kepentingan rakyat, dalam hal ini warga Jakarta ketimbang kepentingan parpolnya, dalam hal ini Gerindra dan PKS. Bukan hal mudah tidak mengusung kader sendiri tapi malah memilih orang luar yang oleh publik Anies saat itu masih dianggap orangnya Jokowi walaupun sudah “dibuang” Jokowi dan “dipungut” Prabowo. Kalkulasi politik yang hampir tidak masuk akal sehat.

Kalau pada pilpres 2019 Gerindra dianggap serakah karena mencalonkan capres-Cawapres Gerindra-Gerindra, dan Prabowo dianggap politisi yang hanya mementingkan parpolnya saja, karena memang memori publik hanya 500 Mb. Pilkada DKI 2017 seakan hilang dari memori karena kapasitas memorinya terbatas.

Sekarang para pendukung Jokowi mendadak bilang Prabowo adalah seorang negarawan hanya karena Prabowo mengucapkan selamat atas kemengan Jokowi dan makan sate bareng. Semudah itu para pendukung Jokowi memberi label Prabowo yang beberapa menit sebelumnya Prabowo masih dicaci-maki dengan julukan politisi sontoloyo. Kamus politik para pendukung Jokowi adalah, siapa saja yang mendukung Jokowi berarti pancasilais, yang mendukung Prabowo adalah anti pancasila, intoleran, dan semacamnya. Politisi yang berani makan sate bareng Jokowi adalah negarawan, yang nggak berani adalah pecundang. Jokowi sudah jadi tolok ukur pancasilais dan negarawan.

Beda dengan Anies. Dia mendapatkan pengalaman hidup yang luar biasa ketika Prabowo memanggilnya untuk dijadikan cagub DKI. Kepada sejumlah media Anies menyatakan , berkaca pada Pilkada DKI Jakarta 2017, di mana dirinya bersama Sandiaga Uno diusung maju oleh Gerindra dan PKS.

Anies pribadi mengaku takjub karena dirinya bukan kader kedua partai itu. Selain itu, pada Pilpres 2014 dirinya dalah juru bicara pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang notabene rival Prabowo dalam kontestasi tersebut.

“Saya itu berada sebagai pendukungnya Jokowi, coba kalau mereka berdua hanya memikirkan kepentingan kelompoknya, partainya, tidak mungkin terjadi,” tuturnya.
Hal itu, kata Anies menjadi bukti masih ada pemimpin di Indonesia yang memiliki sifat kenegarawanan dan tidak hanya mementingkan kepentingannya sendiri.


“Ini membuktikan kenegarawanan masih ada di republik ini, jangan pesimis, mudah-mudahan selalu ada contoh sebagai negarawan,” kata Anies.

Tentu saja Anies bukan tipe kacang yang lupa pada kulitnya, karena dia pernah jadi kacang yang dibuang begitu saja tanpa alasan yang jelas,paling tidak alasan yang publik ketahui. Prabowo tentu saja punya harapan besar pada Anies agar bisa sukses memimpin Jakarta. Bukan hanya kemenangan Pilkada DKI 2017 yang bisa membuat Prabowo bangga, tapi lima tahun hasil kerja Anies akan jadi catatan bukan hanya milik Anies tapi juga milik Prabowo dengan Gerindra dan tentu saja PKS.

Sampai disini, sulit memahami sikap para pendukung Jokowi yang memuji Prabowo sebagai negarawan, tapi tidak henti-hentinya sampai sekarang memaki-maki Anies . Padahal kelompok mereka yang mengatakan, pertemuan Prabowo dan Jokowi untuk menurunkan tensi masyarakat yang terbelah. Tapi ketika bicara soal Anies tensi mereka nggak pernah turun, malah tambah naik.

Bagi mereka, setelah Jokowi menang pilpres 2019 rakyat harus mendukung penuh Jokowi, tapi setelah Pilkada DKI 2017, warga Jakarta tidak boleh mendukung Anies. Rakyat Indonesia harus melupakan drama Pilpres 2019 agar bisa sama-sama membangun Indonesia, tapi warga Jakarta jangan melupakan Pilkada DKI 2017. Anies jangan dibiarkan tanpa cacian, warga Jakarta harus tetap memelihara pertentangan semasa Pilada DKI 2017. Masa bodo amat dengan pembangunan Kota Jakarta. Kata Bang Rojak, “ Dungunya tuh disitu. Dua ratus sekolam kok nggak naik-naik, naik kek barang sepuluh mah…” Itu kata Bang Rojak, bukan kata saya. Kalau kata saya, mereka punya kepribadian ganda.

Mereka memuji Jokowi dan Prabowo sebagai negarawan, tapi sebagai rakyatwan saja mereka nggak bisa. Kalau mendengar nama Anies mereka bawaanya nyolot aje. Tapi untungnya Anies nggak baperan. Walaupun Guntur Romli menyebut Anies itu goblok, Anies cuek saja. Padahal kalau Anies mau, Guntur Romli bisa senasib dengan Ahmad Dhani yang cuma bilang orang-orang yang mempersekusinya sebagai orang-orang idiot. Bahkan di persidangan,secara hukum Ahmad Dani tidak terbukti ucapan itu ditujukan kepada gerombolan yang mempersekusinya. Tapi tentu saja Anies juga sadar, dia berada di kubu mana. Kalau pun misalnya Anies mau memperkarakan kicauan Guntur Romli, belum tentu polisi mau menindak lanjuti.

Singkat cerita, menghina Anies sama saja dengan menghina Prabowo. Paling tidak, tidak menghormati Prabowo sebagai negarawan. Mereka maunya junjungan kubu mereka saja yang dihormati, tokoh kubu lain bodo amat!

Begitu juga dengan kubu Anies yang mulai menggadang-gadang Anies sebagai capres 2024. Memuji Anies sama dengan memuji Prabowo. Jadi nggak bisa memisahkan Anies dengan Prabowo.Sebagai kulit kacang yang sudah kembali dijadikan kacang, tentu saja Anies tidak bisa melupakan begitu saja jasa baik Prabowo yang disebutnya sebagai negarawan sejati. Jadi? 2024 masih jauh.

Lagipula iseng-iseng ngomongin Anies sebagai capres 2024 sama saja dengan membangkitkan amarah warga kolam. Makanya nggak heran Bong semakin beringas dengan mencaci Anies sabagai gubernur goblok. Mereka sedang membendung bola salju Anies for Capres 2024 yang mungkin saja akan terus bergulir. Walaupun Jokowi tidak nyapres lagi, tapi kan mereka mewarisi trah politik Jokowi. Jadi, siapa bilang Cebong otomatis akan punah pada tahun 2024. Nggak lah yaaaww. (gelora)

Presiden dan Menteri Payah



Oleh M Rizal Fadillah

Baru saja ramai soal Traveloka dan Tokopedia yang diajak Menkominfo mewakili unicorn Indonesia menangani platform digital umroh bekerjasama dengan Saudi Arabia. Sebelumnya Presiden Jokowi membanggakan kreativitas "anak Indonesia" yang memiliki dan mengembangkan empat unicorn di samping dua di atas ditambah Gojek dan Bukalapak. Ternyata laporan Google dan Temasek bahwa keempat unicorn tersebut adalah milik Singapura. Kepala BKPM Thomas Lembong bingung dan limbung. Kaget atas fakta ini. 

Kita semua bingung dan kaget betapa rendah informasi yang dimiliki Presiden dan Menteri. Apa yang digembor gemborkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Ini hoax. Artinya Presiden dan Menkominfo menjadi penyebar hoax. Bisa kena pidana. Menurut Kepala BKPM tidak ada investasi yang tercatat. Wajar saja memang keempat unicorn tersebut dimiliki oleh Singapura. Tanpa bermaksud mengejek tapi kita prihatin kualitas Presiden dan Menteri sepayah ini. Memalukan. 

Ketika debat Capres nampak Jokowi "pede" dan bangga sekali dengan keberadaan unicorn yang dikembangkan anak bangsa. Bahkan komentar negatif ditujukan kepada Prabowo yang mempertanyakan soal unicorn. 

Tapi sudahlah memang berulangkali rakyat tertipu oleh pernyataan dan janji janji pemimpin. Menambah keyakinan kita berada dalam millieu tipu tipu. Ditipu atau menipu. 

Kembali pada Traveloka dan Tokopedia yang hendak menjadi bagian dari usaha ibadah kaum muslimin berumroh, maka benarlah Menteri kominfo sebaiknya membatalkan MOU dengan Saudi Arabia sebab akan berdampak serius karena di samping akan berpengaruh terhadap keberadaan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) juga jelas bertentangan dengan undang-undang. Budaya main labrak hukum demi bisnis mesti dihentikan. Stop.

Berita kekagetan dan kebingungan Lembong menjadi bahan introspeksi para pemimpin negara dalam melihat persoalan dengan seksama. Kebijakan mesti matang dan menimbang dampak. Regulasi yang jelas dan jangan asal asalan untuk sekedar kejar target keuntungan sesaat. Indonesia negara besar karenanya tak pantas punya pemimpin yang selalu berfikir pendek dan semrawut. Tidak memiliki platform jelas mengarahkan kemajuan bangsa ke depan. Empat unicorn yang dibangga banggakan nyatanya berinduk dan milik Singapura !

Menggema kembali puisi Taufik Ismail "Malu Aku menjadi Orang Indonesia"

Di negeriku yang didirikan pejuang relijius//Kini dikuasai pejabat rakus//Kejahatan bukan kelas maling sawit//Melainkan permainan lahan duit.

Unicorn dikejar, duit pun terkapar. Hoax dan kebanggaan palsu terlanjur menyebar.

31 Juli 2019 (*)

Poros Megawati-Prabowo Akhiri Petualangan Trio Hendro, Luhut, Gories


Penulis: Luqman Ibrahim Soemay

kata-data.com - Pertemuan Jokowi dengan Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus menandai babak baru garis politik Jokowi. Dari Lebak Bulus dilanjutkan dengan pertemuan Teuku Umar antara Megawati dengan Prabowo. Dua pertemuan ini menandai lahirnya poros politik baru yang tidak lagi mengandalkan trio Abdullah Mahmud Hendroprijono, Luhut Binsan Panjajitan dan Gories Mere. Saya namakan saja mereka bertiga dengan sebutan “Trio Wekwek”.

Trio Wekwek selama ini menjadi arsitek utama garis politik dan kebijakan Jokowi, khususnya dalam lima tahun terakhir. Garis politik yang sengaja, bahkan terang-terangan membenturkan pemerintah Jokowi dengan kelompok Islam kanan atau yang bukan Nahdatul Ulama (NU). Trio Wekwek yang selama ini selalu dan selalu memframing wajah Islam Indonesia identik dengan Islam terorisme, Islam radikalime dan Islam intoleransi.

Mencermati para aktor yang terlibat di pertemuan Stasiun MRT Lebak Bulus dan Teuku Umar, yaitu Kepala BIN Budi Gunawan dan Seskab Pramono Anung, Puan Maharani, Prananda Prabowo dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, maka dipastikan Poros Teuku Umar yang menjadi arsitek utama dua pertemuan tersebut. Shobul hajatnya adalah Teuku Umar, sebutan untuk kediaman Megawati

Tentu saja peran yang dimainkan Budi Gunawan dan Pramono Anung adalah melaksanakan perintah Megawati Soekarnoputri. Alhamdulillaah tugas dari Ketua Umum PDIP tersebut bisa dilaksanakan dengan baik. Bahkan maraih sukses besar. Prabowo mau dan bersedia berunding dengan Jokowi. Namun hanya melalui satu pintu, yaitu jalan Teuku Umar. Tidak lagi melalui Trio Wekwek

Publik, khususnya pendukung Prabowo belum lupa. Hanya berselang tiga hari setelah palsakanaan pemilihan presiden 17 April 2019, Luhut menawarkan diri bertemu Prabowo. Luhut mengklaim diri sebagai utusan khusus Jokowi. Hasil tentu sudah bisa ditebak. Tanpa perlu pikir panjang Luhut ditolak Prabowo dan semua pendukungnya. Sebuah sikap yang menunjukan ketidaksukaan, bahkan mungkin juga kebencian dari pendukung Prabowo yang sudah di ubun-ubun kepada Luhut

Sebuah lompatan politik penting telah diraih Jokowi dari terobosan di Stasiun MRT Lebak Bulus. Meskipun demikian, harus diakui pertemuan tersebut tidak serta-merta dapat mengubah sikap para pendukung Prabowo di akar rumput. Sikap pendukung Prabowo, terutama emak-emak militan tetap tidak bisa menerima kemenangan Jokowi sebagai presiden 2019. Mereka beranggapan kemenangan yang didapat Jokowi melalui kecurangan yang sistematis dan terencana

Pertemuan yang diakhiri makan-makan sate senayan ini dilajutkan pertemuan Megawati dengan Prabowo di jalan Teuku Umar. Dua kali pertemuan antara Prabowo-Jokowi dan Prabowo-Megawati cukup memberikan angin segar bagi Jokowi. Paling kurang untuk lima tahun ke depan. Saat dilantik sebagai presiden Indonesia periode kedua tanggal 20 Oktober 2019 nanti, Prabowo diharapkan bisa hadir dan memberikan ucapan selamat kepada Jokowi

Sejak pertemuan politik stasiun MRT Lebak Bulus, tampak Trio Wekwek tidak dilibatkan. Sebuah keputusan politik yang sangat jitu dan tepat sasaran. Sebab bila Trio Wekwek atau salah satu saja yang dilibatkan, dan biasanya Luhut yang paling sibuk untuk menyodorkan diri maju ke depan, maka hampir dipastikan pertemuan tersebut tidak pernah terjadi. Pasti gagal dan gagal lagi

Mengetahui tingginya kebencian pendukung Prabowo kepada Trio Wekwek inilah yang mendorong Megawati perintahkan Budi Gunawan melakukan segala cara dan upaya, dengan kerahasiaan tingkat tinggi. Targetnya bisa ketemu langsung dengan Prabowo. Setelah ketemu, bujuk Prabowo agar mau bergabung dengan pemerintah Jokowi. Tawarkan saja cek kosong kepada Prabowo. Jokowi dan Megewati membiarkan Prabowo sendiri yang mengisi berapa nilai ceknya yang pantas. Sayangnya, cek kosong itu bukan dalam bentuk duit

Tawaran memberikan cek kosong kepada Prabowo untuk saat ini cukup ampuh meredam Prabowo. Termasuk teman-teman Prabowo di koalisi adil makmur, PKS dan PAN. Buktinya Amin Rais yang terkenal sangat keras menentang rekonsiliasi dengan Jokowi, belakngan mulai melunak setelah ketemu Prabowo. Sikap melunaknya Amin Rais ini dengan membuat pernyataan “kita akan mengawasi Jokowi dan Ma’ruf Amin liman tahun ke depan”

Bersatunya koalisi Jokowi-Megawat dengan Prabowo ini tentu saja tidak dikehendaki Trio Wekwek. Mereka pasti tidak nyaman dengan keberadaan Prabowo di koalisi Jokowi-Megawati. Buktinya, sampai sekarang Trio Wekwek masih membisu seribu bahasa. Trio wekwek tak berkomentar apapun tentang pertemmuan Stasion MRT Lebak Bulus dan Teuku Umar.

Lambat tapi pasti peran Trio Wekwek akan digantikan Prabowo dengan teman-temannya. Paling kurang dalam mengelola pemerintahan lima tahun ke depan, Jokowi punya tambahan teman untuk didengar pendapatnya. Petualangan Trio Wekwek selama ini dengan membenturkan Jokowi dengan Islam kanan cukup membuat posisi Jokowi tidak aman. Bahkan hampir saja terjungkal

Trio Wekwek sebenarnya tidak punya posisi tawar publik. Mereka bertiga tidak punya basis politik yang kuat dibandingkan dengan Prabowo. Hendroprijono misalnya, hanya berasal dari partai politik kecil PKPI yang tidak lolos parliamentary threshold. Hendro tidak punya kusrsi setengah pun di DPR.

Ambisi politik Hendro, selain mengamankan urusan bisnis pribadinya, selalu berupaya dengan segala cara mendorong-dorong anak dan menantu untuk menjadi pejabat negara. Diaz Hendroprijono kini jadi Staf Khusus Presiden. Menantu Jendral TNI Andika Perkasa digadang-gadang sampai jadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD)

Kelakuan Hendro ini hanya beda-beda tipis dengan Soesila Bambang Yudhoyono. SBY sekarang ini sebagian besar hidupnya hanya diabdikan untuk memperjuangkan dua putranya Edhi Baskoro dan Agus Harimurti bisa menjadi menteri. SBY sekarang rela kehilangan nama besar sebagai negarawan, asalkan anaknya Ibas dan Agus bisa jadi pejabat negara. Bedanya dengan Hendro, SBY punya Partai Demokrat, dan punya kursi DPR

Sedangkan Luhut cuma pendatang di Golkar. Luhut tidak punya kaki di akar rumput Partai Golkar. Kerjanya hanya memonopoli semua lini bisnis. Caranya dengan menakut-nakuti pejabat level bawah. Mulai dari Dirjen, Gubernur, Bupati, eselon dua, tiga dan empat di kementerian. Luhut sangat berambisi memposisikan dirinya sebagai orang kaya sepuluh besar di negeri ini. Untuk itu, semua proyek mutlak harus melibatkan perussahaan Luhut, baik langsung maupun hanya vehicle.

Kepuasan Luhut lainnya adalah menempatkan orang-orang batak menjadi pejabat negara dan bisnis di semua lini pemerintahan dan usaha. Mereka menempati posisi-posisi penting di eselon satu, dua, tiga dan empat disejumlah kementerian. Lihat di KPK, dua orang komisoner dari batak kristen, yaitu Basariah Panjaitan dan Saur Situmorang

Selain itu, Luhut juga banyak menaruh orang-orang batak di direksi dan komisaris BUMN. Selain itu mereka bertebaran juga di sejumlah perusahaan konglomerat swasta. Begitu juga dengan pejabat negara setingkat menteri. Lihat saja, Kerpala Badan Saiber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen (Purn) Hinsa Siburian. Merskipun tidak punya kemampuan dan pengetahuan apa-apa tentang siber, namun Luhut berusaha dengan segala cara meperjuangkan Hinsa Siburian menjadi kepala BSSN.

Begitu juga dengan anak mantunya Mayjen TNI Maruli Simanjuntak. Maruli sekarang menjabat Komandan Pasukan Pengmanan Presiden (Dan Paspampres). Maruli yang berasal dari lulusan Akademi Militer 1992 menjadi orang pertama yang menggapai bintang dua di pundaknya. Sayangnya, yang diperjuangkan Luhut hanya terbatas orang-orang batak kristen atau HKBP. Rupanya hanya sebatas itu ambisi besar anak emasnya Jendral TNI (Purn) L.B Moerdani ini

Luhut juga menjadi arsitek utama masuknya tenaga kerja asing Cina ke Indonesia. Modusnya adalah pembukaan investasi kawasan ekonomi khusus. Mau lihat buktinya. Datang dan lihat pembangunan smelter untuk pengolahan nikel di beberapa daerah, seperti di Pomala Sulawesi Tengah, Konawe Sulawesi Tenggara dan Obi Maluku Utara. Dipastikan hampir 90% tenaga kerja di tiga perusahaan pemurnian nikel ini berasal dari Cina

Lain lagi dengan petualangan Komjen Polisi (Purn) Gories Mere. Pensiunan polisi bintang tiga ini hobbinya membuat penangkaran atau memproduksi teroris. Misi utamanya, mencitrakan Islam yang identik dengan kekerasan atau pembunuhan atas nama perang jihad dan sejenisnya.

Untuk menciptakan horor ini, Gories tidak sendirian. Mentornya Brigjen Polisi (Purn) Surya Dharma. Yuniornya adalah Irjen Pol. (Purn) Bakto Suprapto, Irjen Pol. Carlo Tewu, Deputi di Menkopolhukam, Irjen Pol. Petrus Golosse, sekarang Kapolda Bali, Brigjen Pol. Martinus Hukom, sekarang Wakadensus 88 Polri dan Brigjen Rahmat Wibowo, sekarang Direktur Tipid Siber Bareskrim Polri. Gories mewakili Amerika, Inggris, Asutralia dan Yahudi di Indonesia

Publik negeri ini belom lupa dengan ngopi-ngopi Gories dengan pelaku bom Bali Amroji di Mall Plaza Senayan. Hanya Gories yang punya kesaktian bisa jalan-jalan dengan terhukum teroris untuk shoping dan ngopi-ngopi di mall. Padahal ketika itu Gories menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Gories juga suka jalan-jalan di luar penjara dengan ratu ekstasi Jarimah Mirafsur

Hobi bersama Trio Wekwek adalah mencitrakan horor tentang Islam kanan. Misalnya Islam kanan itu dekat dengan teroris, radikal, dan intoleransi. Selain itu, Islam kanan juga diidentikan dengan kekerasan. Prilaku Trio Wekwek ini tentu berlawanan dengan garis politik koalisi Jokowi-Megawati yang selalu berusaha bisa bergandengan dengan Islam kanan.

Megawati juga sangat beringinan mendorong Islam kanan agar lebih ke tengah. Megawati ingin mencontoi Bung Karno yang berangkulan mesra dengan tokoh-tokoh Masyumi seperti di awal kemerdekaan. Bung Karno sangat dekat dengan Muhammad Natsir, Mohammad Roem dan Syafrudin Prawiranegara

Kondisi politik tiga tahun terakhir yang renggang dengan Islam kanan, mendorong Megawati untuk memperbaikinya. Apalagi menghadapi suksesi kepemimpinan di PDIP yang kemungkinan jatuh ke Puan Maharani atau Prananda Prabowo di tahun 2024 nanti. Sayangnya inilah yang sekarang renggang akibat ulah petualangan politik Trio Wekwek. (gelora)

Prabowo, Musuhmu Itu Siapa Sih?



Oleh: Tb Ardi Januar (Analis Media)

BANYAK yang beranggapan musuh Prabowo adalah Jokowi. Orang yang pernah diorbitkan Prabowo tapi akhirnya menjelma menjadi kompetitor politik di dua event Pilpres.

Tapi nyatanya Prabowo mau menemui Jokowi di saat sebagian pendukungnya masih baper dengan hasil Pilpres. Prabowo tak ragu ucapkan selamat dan memberi hormat. Siap berkontribusi bila diperlukan dan akan terus kritis demi kebaikan.

Banyak yang beranggapan musuh Prabowo adalah Megawati. Pernah bersama di Pilpres 2009 tapi bercerai di Pilpres 2014. 

Tapi nyatanya Prabowo tetap mau menemui Megawati dengan penuh kehangatan. Jejak politik tak mengurangi rasa hormat Prabowo kepada Mega sebagai sahabat, sebagai mantan presiden, wabil khusus sebagai putri Sang Proklamator.

Banyak yang beranggapan musuh Prabowo adalah SBY. Orang yang turut serta menandatangani pemberhentian saat di kesatuan dan orang yang dinilai setengah hati memperjuangkan Prabowo saat Pilpres.

Tapi nyatanya Prabowo selalu menghormati SBY. Prabowo ajak koalisi saat Demokrat tak punya teman. Prabowo tak ragu memuji SBY di setiap kesempatan, Prabowo menyemangati SBY saat dia kehilangan orang tersayang. Meski akhirnya SBY dan Demokrat balik badan di tengah jalan.

Banyak yang beranggapan musuh Prabowo adalah Wiranto. Orang yang menyebabkan Prabowo kehilangan jabatan dan membuat Prabowo menjadi kambing hitam dari huru-hara kekuasaan.

Tapi nyatanya Prabowo tak pernah mengerdilkan Wiranto dan Hanura. Tanpa diserang Prabowo, Hanura sudah tenggelam duluan. Saat Anies-Sandi hendak dilantik di Istana, Prabowo menghampiri Wiranto, menyapa dan memberikan hormat tanpa ada rasa terpaksa.

Banyak yang beranggapan musuh Prabowo adalah LBP. Sejarah tentara merah vs tentara hijau kerap dikaitkan banyak pihak menjadi penyebabnya. 

Tapi nyatanya Prabowo masih berhubungan baik dengan LBP. Kerap makan siang bersama dan beberapa kali saling bertegur sapa meski sebatas via telepon.

Banyak yang beranggapan musuh Prabowo adalah Ahok. Orang yang pernah diberi karpet merah gratis untuk berkuasa dan pergi tanpa pamit setelah kekuasaan itu diraih.

Tapi nyatanya Prabowo tidak pernah menjelek-jelekan Ahok. Prabowo tidak pernah mengungkit jasa. Bahkan saat adik kandung Ahok bernama Fifi Letty hendak datang, dia terima dengan pintu terbuka dan disambut layaknya keluarga.

Banyak yang beranggapan musuh Prabowo adalah para aktivis HAM. Mengingat Prabowo kerap difitnah dengan kasus HAM.

Tapi nyatanya para para aktivis 98 banyak yang bergabung dengan Prabowo dan Gerindra. Aktivis HAM banyak yang jadi tim suksesnya, bahkan ada juga pengacara HAM yang menjadi kuasa hukum Prabowo saat bersengketa di MK kemarin.

Banyak yang beranggapan musuh Prabowo adalah negara asing. Karena Prabowo selama ini kerap berteriak soal kedaulatan dan menolak ketergantungan kepada pihak asing.

Tapi nyatanya delegasi negara sahabat kerap bertandang ke Hambalang. Baik dari belahan Amerika, Uni Eropa, Asia, hingga negara-negara dari Timur Tengah.

Banyak yang bilang musuh Prabowo adalah pengamat politik dan buzzer bayaran. Tapi hingga saat ini belum ada satu pun tokoh atau netizen yang dia laporkan dan dipenjarakan.

Jadi musuh Prabowo yang sebenarnya itu siapa sih...?

Hingga akhirnya kita mengerti bahwa Prabowo tidak pernah memusuhi orang secara pribadi. Prabowo orang yang bersahabat dan selalu menaruh respek kepada orang lain.

Musuh Prabowo bukanlah pribadi atau golongan melainkan kondisi negeri. Kemiskinan dan ketidakadilan adalah musuh nyata yang sedang dia perangi. Kemakmuran, kedaulatan dan persatuan adalah komitmen yang sedang dia perjuangkan.

Karena Prabowo selalu respek kepada setiap orang, menjadi salah satu alasan kenapa saya menaruh hormat kepada dia dan memilih berjuang di bawah komando dia.

Sekian... gelora

Prabowo-Megawati, Alih Strategi Selamatkan Indonesia


Oleh: Gusmiyadi Goben*

ORANG-orang mesti konsisten. Tempo hari Jokowi dinilai minim kapasitas. Presiden Boneka. Jokowi dikendalikan oleh barisan orang-orang atau kelompok yang ada di sekelilingnya. Saya pikir, pendukung Jokowi sekalipun, di dalam hati kecilnya mengamini fakta ini.

Kini barisan itu menjadi rapuh, panik, dan saling curiga karena manuver Prabowo. Terlebih siang ini-setelah tempo hari bertemu Jokowi-Prabowo lakukan pertemuan dengan Megawati. 

Manuver Prabowo ini tentu saja berdampak terhadap semakin sempitnya ruang gerak antarkelompok di kubu Jokowi. Kelompok inilah yang selama lima tahun ke belakang melakukan operasi politik atas kebijakan-kebijakan strategis di negara ini.

Dalam situasi seperti ini, sesungguhnya yang terpenting adalah jangan terburu-buru melakukan justifikasi terhadap Prabowo. Babak awal cerita soal MRT, Prabowo berhasil menyibak tabir dukungan semu di barisannya. Prabowo ini dikenal sebagai muasal istilah tentara hijau (Islam) karena komitmennya terhadap agama. 

Tetapi di sisi lain, tidak pernah terbantahkan bahwa Prabowo memiliki komitmen nasionalisme yang tinggi atas bangsa ini. Maka tentu keliru berat kalau Prabowo kemarin-kemarin dituding turut mendukung Islam garis keras atau malah setuju dengan negara khilafah.

Prabowo telah memimpin Partai Gerindra lebih dari 10 tahun. Sepanjang sejarah, Gerindra ini ada di barisan oposisi. Tak pernah sedikit pun Prabowo merasa susah dengan pilihan politiknya itu. Ia selalu bergairah mengangkat tema-tema kedaulatan, kemandirian, nasionalisme, dan seterusnya.

Nah kini, pascapemilu, meski tidak dalam posisi berkuasa, Prabowo tentu tertantang atas kemungkinan melakukan rekonsiliasi. Karena ada peluang untuk mendorong gagasan, platform hingga visi, untuk dielaborasi dalam paket rekonsiliasi konstruktif demi bangsa dan negara.

Pilihan politik ini akan berdimensi luas. Ketegangan politik sejak lima tahun lalu tensinya akan semakin menurun. Cebong-Kampret dipastikan bubar. Proses elaborasi ini akan membatasi banyak sekali ruang gerak kaum oportunis. 

Di sisi lain, Prabowo juga berpeluang mengawal kebijakan-kebijakan berbasis tema-tema ekonomi dan sumber daya alam sebagai konsentrasi perjuangan yang sedari dulu ia gelorakan.

Usai membaca surat dari Prabowo, Amien Rais tampaknya mulai memahami langkah Prabowo. Pernyataannya mulai melunak. Mulanya Ia tampak sinis menilai pertemuan MRT. Kini ia mulai memantik sarat-sarat rekonsiliasi. 

Secara prinsip, tentu ini menjadi sinyal bahwa Amien Rais akhirnya setuju dengan langkah-langkah Prabowo Subianto. Pun PKS, partai ini tidak menyerang Prabowo. Mereka menghormati langkah yang diambil dan mungkin sedang merancang strategi khusus bagi masa depan partai mereka.

Prabowo tentu tidak mudah dijengkali dengan isu keserakahan dan haus kekuasaan. Bagi Prabowo hal-hal yang bersifat materialistis sudah selesai dan tuntas bagi dirinya. 

Prabowo tentu juga menyadari bahwa langkah yang diambil sangat beresiko bagi Gerindra di tengah arus dukungan pilpres yang luar biasa besar dan panas. Tapi ia selalu saja mengatakan: Demi Rakyat, Demi Indonesia.

*) Aktivis Indonesia Bergerak Caleg Gerindra terpilih.

Tiba-tiba Tulis Postingan Bernada Melow, Ada Apa dengan Jenderal Luhut?



*Penulis: Hersubeno Arief

Tidak biasanya Menko Maritim Luhut Panjaitan yang dikenal selalu tampil garang, memposting tulisan bernada melow.

Senin sore (22/7) melalui akun facebooknya Luhut menulis kegiatan pribadinya. Dia berziarah ke makam mantan Menhankam/ Panglima TNI Leonardus Benjamin Moerdani di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

“ Tiba-tiba saya teringat pak Benny.” Begitu Luhut memulai tulisannya.

“Saya pada suatu pagi minggu lalu memutuskan untuk berziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Kalibata. Di pusara beliau saya memberi hormat penuh lalu mendoakan agar arwahnya diterima di sisi-Nya sesuai dengan amal jasanya sewaktu masih hidup.”

Kemudian saya sentuh batu nisannya, lanjutnya. “Saya baca tulisan di nisan itu, beliau meninggal pada 29 Agustus 2004, setelah dirawat beberapa waktu di RSPAD Gatot Soebroto. Usianya 72 tahun. Relatif masih muda.”

Konten dan gaya penulisannya terkesan sangat personal. Melalui tulisan itu Luhut kemudian bercerita tentang Benny. Seorang loyalis Soeharto yang kemudian tersingkir dari kekuasaan.

Namun satu hal yang dicatat Luhut, apapun sikap dan perlakuan Soeharto kepedanya, Benny tak pernah kehilangan kesetiaannya.

Tersingkirnya Benny dari elit kekuasaan Orde Baru berdampak langsung terhadap Luhut. Sebagai salah satu Golden Boys Benny, begitu Luhut menyebut dirinya, dia juga harus menerima konskuensinya. Karir militernya mentok.

Sebagai lulusan terbaik Akmil 1970, mendapat penghargaan Adhi Makayasa, Luhut terpilih masuk ke korps pasukan elit Kopassus TNI AD. Namun karir militernya tidak cemerlang.

“Tidak jadi Danjen Kopassus, tidak jadi Kasdam atau Pangdam; bagi saya itu harus bayar sebagai akibat kesetiaan yang tegak lurus,” tulisnya.

Luhut benar, jabatan tertingginya di lingkungan teritorial hanya mentok sebagai Komandan Komando Resort Militer 081/Dhirotsaha Jaya di Madiun Jatim. Pada jabatan ini dia juga menorehkan prestasi sebagai Danrem terbaik.

Setelah itu dia tak pernah menempati posisi komando yang penting. Jabatan Danjen Kopassus malah berhasil diraih oleh teman satu angkatannya di Akmil 1970 Soebagjo HS. Padahal secara akademis dan militer, Luhut lebih menonjol.

Jabatan tertinggi di lingkungan militer yang diraih Luhut “hanya” menjadi Komandan Kodiklatad di Bandung dengan pangkat Mayjen. Pangkat Jenderal bintang empat yang diperolehnya melalui penghargaan yang disebut sebagai jenderal kehormatan (Hor).

Karir Luhut justru cemerlang di luar lingkungan militer. Dia diangkat menjadi Dubes Singapura pada masa pemerintahan Habibie dan kemudian menjadi Menteri Perindustrian di era Presiden Abdurahman Wahid.

Sempat menepi pada masa pemerintahan Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono, karir Luhut kembali cemerlang pada masa pemerintahan Jokowi.

Menempati posisi awal sebagai Kepala Staf Presiden (KSP) Luhut kemudian sempat menjadi Menkopolhukam, dan sekarang menjadi Menko Maritim. Melalui berbagai jabatannya ini Luhut menunjukkan pengaruhnya yang besar sebagai pejabat yang paling diandalkan Presiden Jokowi.

Semua urusan baik politik, ekonomi, sampai kegiatan pribadi Jokowi (menikahkan anak) tak lepas dari sentuhan Luhut. Dengan posisi dan perannya Luhut mendapat julukan sebagai menteri semua urusan. Perannya bahkan terkesan lebih besar dibandingkan dengan Wapres Jusuf Kalla.

Power struggle

Dengan semua kekuasaan dan kesuksesan di tangan, menjadi pertanyaan besar mengapa Jenderal Luhut tiba-tiba terkesan melow. Terkesan dia sedang sendirian dan berada di sebuah ujung perjalanan karirnya.

Coba simak salah satu kalimat yang ditulisnya:

“Beberapa lama saya pandang pusaranya yang sederhana, sesederhana ribuan pusara lain di TMP Kalibata yang seolah mengisyaratkan bahwa bila wafat, hanya gundukan tanah seluas 1 x 2 meter itulah yang tersisa.”

Betapa pun kayanya seseorang, lanjutnya. Betapa berkuasanya sewaktu masih hidup; “hanya tanah itu yang menandakan bahwa ada sesosok manusia yang pernah hidup di dunia.”
Sungguh sangat kontemplatif dan menunjukkan sikap seseorang yang sudah siap meninggalkan semua hiruk pikuk duniawi.

Bila menyimak hasil Pilpres 2019 yang baru lalu, Luhut sesungguhnya sedang menyambut masa kejayaan berikutnya.

Mengacu pada masa pemerintahan Jokowi periode pertama, Luhut akan kembali memainkan peran besar, bahkan lebih besar.

Dengan posisi Wapres ditempati Maruf Amin, besar kemungkinan Luhut akan mengambil peran internasional yang lebih besar. Sebuah peran yang selama ini dimainkan oleh Jusuf Kalla.

Secara bisnis Luhut juga sedang berada dalam puncak keemasan. Dia baru saja membangun gedung perkantoran bernama Sopo Del Tower, tempat kerajaan bisnisnya berpusat.

Gedung berlokasi di kawasan elit Mega Kuningan, Jakarta Selatan itu baru saja memenangkan tender dan menjadi kantor Pusat PT Pertamina.

Jadi seharusnya tak ada alasan bagi Luhut untuk cepat-cepat mengingat kematian. Apalagi dia menyebut usia Benny ketika meninggal dunia, masih relatif muda, 72 tahun. Usia Luhut sendiri baru akan mencapai 72 tahun pada 28 September mendatang.

Apakah sikap melow Luhut ada kaitannya dengan pertarungan kekuasaan di seputar Jokowi pasca Pilpres? Lebih khusus lagi pasca pertemuan Jokowi-Prabowo di stasiun MRT? Kebetulan dalam tulisan itu Luhut juga menyinggung konflik masa lalu Prabowo dengan Benny.

Pertemuan Jokowi-Prabowo berhasil dilaksanakan berkat tangan dingin Kepala BIN Budi Gunawan. Jenderal polisi ini dikenal sebagai orang dekat Megawati. Sebelumnya Luhut berkali-kali mencoba mempertemukan Jokowi dengan Prabowo, namun gagal. end. (*)