China Peringatkan Inggris Stop Campur Tangan Di Hong Kong


kata-data.com - Pemerintah China memberi peringatan keras kepada Inggris agar menjauhi urusan dalam negeri Tiongkok terkait krisis Hong Kong.

Pada Jumat (9/8), Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, menyerukan penyelidikan independen atas kekerasan yang terjadi di tengah protes massa yang berlarut-larut di Hong Kong.

Raab menyatakan itu setelah berkomunikasi via telepon dengan Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam.

Sabtu (10/8), Jurubicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying, merespons keras pernyataan Inggris yang dinilai sebagai intervensi terhadap urusan dalam negeri Tiongkok.

"Adalah kesalahan pemerintah Inggris untuk secara langsung menghubungi Kepala Eksekutif Hong Kong untuk memberikan tekanan," kata Hua Chunying, dikutip Reuters.

Ia melanjutkan, China sangat serius mendesak Inggris untuk menghentikan campur tangannya dalam urusan dalam negeri China, membuat tuduhan dan menghasut Hong Kong.

Hong Kong tidak lagi menjadi koloni Inggris dan Inggris tidak memiliki hak pengawasan," tambah Hua Chunying.

Hong Kong mengalami badai protes anti-pemerintah China yang penuh kekerasan selama sembilan minggu terakhir. Inilah krisis politik terparah yang dialami wilayah tersebut sejak dikembalikan oleh Inggris ke China pada 1997. (Rmol)

Video dari 100 Tahun Lalu, Terungkap Para Wanita Inggris Mengenakan 'Hijab'


kata-data.com - Rekaman video berusia lebih dari 1 abad ini memperlihatkan sejumlah wanita di Inggris bagian utara yang mengenakan penutup kepala. Mereka adalah para wanita pekerja di pabrik Alfred Butterworth, Manchester, yang direkam pada tahun 1901.

Arsip-arsip video dibuat berwarna (aslinya video hitam putih) dan ditayangkan dalam bentuk dokumenter berjudul Edwardian Britain in Colour di channel My5 asal Inggris.

Sejarawan Inggris, Professor Vanessa Toulmin mengatakan:

"Yang menarik adalah semua rambut wanita [pekerja] itu ditutupi. Para wanita tidak memperlihatkan rambut panjangnya. Jadi yang kau saksikan para perempuan itu, ada kain yang menutupi mereka dan Anda tidak melihat rambutnya sama sekali. Anda hanya bisa melihat wajah mereka," kata pendiri dan Direktur Riset National Fairground Archive (NFA) itu.

"Saat ini ada perdebatan tentang hijab dan wanita yang menutupi rambutnya, sementara kita melupakan bahwa kita telah kehilangan hal itu sebagai bagian dari kebudayaan kita. 100 tahun yang lalu, Anda tidak bisa berjalan-jalan di jalanan kota Lancashire dengan rambut yang terjulur keluar," ujarnya.




Gelora


China Tidak Akan Tolerir Kekuatan Asing Di Hong Kong



kata-data.com - China mengecam Amerika Serikat dan Inggris karena dinilai mencampuri urusan Hong Kong. Kecaman dikeluarkan China setelah kedua negara tersebut menyuarakan keprihatinan tentang serangan brutal terhadap pengunjuk rasa pro-demokrasi yang terjadi di Hong Kong.

Serangan yang dimaksud adalah pemukulan terhadap demonstran Hong Kong oleh gerombolan gangster pada akhir pekan kemarin. 

Kejadian tersebut memperdalam ketakutan tentang penggunaan otot sewaan bayangan untuk membela kepentingan China.

Akibat kejadian tersebut, setidaknya 45 orang dirawat di rumah sakit.

Inggris dan Amerika Serikat kemudian buka suara atas kejadian itu dengan menyatakan keprihatinan soal kebebasan yang terkikis di Hong Kong.

Namun China menilai bahwa pernyataan seperti itu adalah bentuk campur tangan. 

"China tidak akan mentolerir pasukan asing yang campur tangan dalam urusan Hong Kong, juga tidak akan membiarkan pasukan asing mengganggu Hong Kong," kata jurubicara kementerian luar negeri Hua Chunying pada Selasa (23/7).

"Kami menyarankan Amerika Serikat untuk mengambil kembali tangan hitam mereka di Hong Kong secepat mungkin," tambahnya, seperti dimuat Channel News Asia. rmol

Persaingan dengan China, India Siapkan Rp31 Triliun Bangun Enam Kapal Perang



Pemerintah India menyiapkan dana 150 miliar rupee atau setara USD2,2 miliar untuk membangun kapal perang dan kapal pendukung bagi angkatan laut mereka, demi meningkatkan keamanan di perbatasan serta wilayah Samudra Hindia. Jika dikonversi ke rupiah, nilai tersebut setara Rp31 triliun (kurs Rp14.157 per USD).

Melansir dari Bloomberg, Selasa (2/7/2019), Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi telah meminta tujuh galangan kapal membangun enam kapal perang, delapan kapal patroli cepat, dan 12 hovercrafts sebagai pendukung.

Menurut sumber tersebut, produsen kapal yang mendapat tender ini adalah galangan kapal swasta yaitu Larsen & Toubro Ltd, Reliance Naval & Engineering Ltd, serta galangan kapal yang dikelola pemerintah seperti Mazagon Dock Shipbuilders Ltd, Garden Reach Shipbuilders & Engineers Ltd., Goa Shipyard Ltd., Hindustan Shipyard Ltd, dan Cochin Shipyard Ltd.

Tender pembangunan kapal perang ini bagian dari rencana modernisasi militer Modi senilai USD250 miliar (Rp3.539 triliun) untuk memperkuat angkatan bersenjata India, menghadapi kekuatan saingannya China. Beijing belum lama ini memberikan perlindungan keamanan bagi kapal tankernya yang melewati wilayah Samudra Hindia.

Menurut sumber Kementerian Pertahanan India, pembangunan kapal perang ini berkonsultasi dengan Angkatan Laut India dan Badan Keamanan Laut India. Dengan anggaran keuangan yang telah disiapkan, India menginginkan jumlah kapal yang lebih banyak.

"Ada beberapa permintaan lagi (kapal perang) dalam proposal pembuatan. Kemungkinan (dananya) akan dikeluarkan dalam beberapa bulan ke depan," kata pernyataan Kementerian Pertahanan India.

Pada 20 Juni kemarin, Kementerian Pertahanan India telah mengeluarkan tender militer pertama di bawah pemerintahan Modi yang kedua, untuk membangun enam kapal selam dengan biaya 450 miliar rupee.

Angkatan Laut India menargetkan memiliki 200 kapal perang pada tahun 2027, dimana saat ini Negeri Anak Benua memiliki 140 kapal perang. Badan Keamanan Laut India juga berencana memiliki 200 kapal pada tahun 2022, yang saat ini masih kekurangan yaitu 35 unit kapal.

Tiga Orang Didakwa Hendak Ledakkan Pemukiman Muslim



Tiga pemuda dan seorang remaja didakwa hendak melakukan serangan terhadap pemukiman Muslim di New York, Amerika Serikat, bulan Januari lalu.

Mereka curiga Islamberg, sebuah kawasan yang ditinggali sekitar 200 umat Muslim di sebelah baratlaut New York City, adalah sarang teroris. 

Hari Jumat kemarin (28/6) waktu setempat untuk pertama kali kasus ini dibawa ke pengadilan. 

Terdakwa pertama, Vincent Vetromile (20), didakwa atas kepemilikan senjata. Ini adalah ksesalahan tingkat pertama. Sementara dua terdakwa lainnya, Andrew Crysel (19) dan  Brian Colaneri (20), didakwa bersalah karena ikut dalam konspirasi bersama Vetromile. 

Demikian disampaikan Jurubicara Monroe County District, Calli Marianetti, seperti dikutip dari CNN.

Disebutkan, bahwa persidangan dengan agenda menjatuhkan hukuman bagi mereka bertiga akan digelar tanggal 8 Agustus mendatang.

Vetromile menghadapi ancaman pencajara selama tujuh hingga 12 tahun. Sementara Crysel dan Colaneri diancam hukuman penjara antara empat hingga 12 tahun. 

Adapun dakwaan bagi terduga keempat, karena dianggap masih di bawah umur ketika ditangkap, masih belum diputuskan. Jatidirinya pun belum diungkap ke publik. 

Keempat orang ini ditangkap bulan Januari lalu di Greece, New York, sehari setelah seorang siswa melaporkan komentar-komentar mereka saat makan siang di sebuah sekolah lokal. 

Mereka berempat dituduh membuat bom rakitan utnyk meledakkan pemukiman Islamberg di Delaware County, New York. RMOL